Pengalaman Dari Gontor (3)

Oleh : Ustadz Hasanain Juaini (Alumni Gontor)

Pimpinan PONDOK PESANTREN NURUL HARAMAIN LOMBOK BARAT, NTB, INDONESIA

GONTOR DARI DALAM (3)

PARLEMEN DAN KABINET ALA GONTOR

 

Dengan keyakinan penuh saya menduga bahwa jika Pak Lukman Saifuddin, Nur Wahid atau Ahmadi ditanya: ” mana lebih khidmat sidang Komisi, Sidang Pleno dan sidang Paripurna yang di Gontor atau yang di DPR&MPR RI? Jawabnya pasti YANG DI GONTOR dong!

 

Bejibun alasannya: Parlemen di Gontor tak ada boongnya, tak ada gajinya, tak ada melesetnya namun manfaatnya untuk menjamin proses pembentukan manusia-manusia Indonesia dan atau dunia yang beriman, berilmu, beramal dan berihsan.

 

Kelebihan yang tak mungkin mampu ditiru oleh DPR & MPR RI adalah bahwa di Gontor Parlemen ini setelah menyelesaikan GBHPondok, program kerja, kegiatan-kegiatan dan indikator kinerja serta anggaran biaya RAPBPondok, maka mereka semua lalu menanda tangani fakta integritas untuk menjadi ANGGOTA KABINET yang lazim disebut Pengurus Organisasi Santri Pondok Modern alias OPPM. Sayangnya saya tidak pernah menduduki banyak lebih dari empat posisi berbeda di dalam OPPM itu yaitu; Bagian Tamu, Bagian Penerangan Bulan Ramadlan, Bagian Binatu dan Bagian Keamanan Rayon (tepatnya di Rayon Koma Sigor Lama-dimana salah seorang anak-buah saya adalah Yudi Latif yang sekarang sering banget menjadi Narsum di TV. Maklum dia hebat sejak dulu di Gontor)

 

Saat menjadi Keamanan Rayon inilah saya mula-mula pertama membuat taman-taman sekelilingnya dan lalu ini menginspirasi taman2 yang ada sekarang bahkan ada menteri pertamanan sekarang di OPPM konon namanya BASATINO. he he he.

 

Pengalaman paling mengesankan adalah ketika menjadi Pengurus Bagian Penerimaan Tamu. Bagian ini biasanya diambil dari santri kelas B dikarenakan polume kerjanya yang luar biasa sibuk meladeni tamu-tamu yang ratusan dan bisa ribuan jumlahnya dalam sehari baik makan minum, mencarikan anak-anak yang dijenguk, membersihan tempat tidur serta menjamin ketersediaan dan kebersihan kamar air di kamar mandi.

 

Satu kali ada tamu wali murid yang sedang melihat kami sedang mencuci beberapa ratus piring selesai sarapan pagi. Wali santri itu lalu mendekat dan menanyakan berapa gaji kami sebulan? Terang saja kami hanya tersenyum dan tidak menjawab. Setelah cuci piring kami akan menyapu puluhan kamar dan menjamin agar semua anak-anak yang kedatangan walinya bisa bertemu se-cepat-cepatnya.

 

Suatu kali tamu begitu banyak yang datang maka nasi dan lauk pauk serta air minum harus diambil banyk juga dari dapur umum yang kami dorong dengan gerobak. nah kebetulan sekali yang mendapat giliran adalah saudara Muhammad Arwani asal Boyolali. Dia ini badannya agak kecil bin mungil. Dan inilah akibatnya: Arwani kembali ke kantor bukannya membawa gerobak berisi nasi, lauk pauk dan air minum untuk tamu, tapi kembali dengan basah kuyup tersiram kuah sayur, diguyur air minum yang tumpah dari ember besar serta….berlepotan dengan nasi-nasi dikepalanya. Rupanya muatan yang terlalu banyak sehingga di depan kantor bagian keamanan yang sering dijadikan tempat menumpuk besi beton itu dia menabraknya tumpukan besi beton maka diapun terangkat lalu terguling guling. Kwa kwa kwaka kaa.

 

Waktu menjadi anggota Bagian Binatu saya juga terkena penalti karena ada pakaian anak-anak yang rusak terbakar dimakan setrikaan. lalu peristiwa kebakaran juga terjadi pada waktu saya disana. Akhirnya sembari menyambut diputarnya film Negeri Lima Menara, maka saya pun harus turut mengklaim sebagai SHOHIBUL MANAROH karena di bulan ramadlan tahun 1983 sayalah penguasa menara di Gontor itu. Saya menjabat anggota pengurus bagian penerangan. Kami pemegang koncinya dan hanya kami yang bisa naik ke atasnya untuk menjamin loudspeaker yang mengumandangkan Azan, Khutbah, Pengumuman khusus dan yang paling penting dan ini harus diketahui WALSANTOR bahwa suara SERINE UNTUK MEMBANGUNKAN SAHUR dari puncak Menara Gontor itulah yang menjadi patokan sahurnya masyarakat sekujur kabupaten Ponorogo. oleh karenanya tidak boleh terjadi miss walau sekali saja.

 

Nah satu kali terjadilah peristiwa yang tak akan saya lupakan selama-lamanya yaitu, akibat sebelumnya terlalu penat menyiapkan capel-capel agar bisa lulus dalam ujian penerimaan siswa baru maka tanpa tidur sepicingpun saya menyetel sirine itu itu tepat waktu, lalu menunggu di Mimbar / mihrab masjid Jamik Gontor yang diresmikan Pak Hartoe itu.

 

Samar samar saya mendengar suara mendengung seperti suara lebah-lebah, makin lama makin mengungkit remanen-remanen kesadaran saya. dengan memaksakan diri saya mengkucek-kucek mata dan mulai …..dan…..ASTAGFIRULLAH mendadak saya merasa seperti terbang tinggi lalu jatuh kembali dan menciut menjadi kecil sekecil semut….itulah kira-kira rasanya ketika melihat bahwa dibelakangg punggung saya jamaah shalat subuh yang berisi tiga ribuan lebih jamaah sedang mengangkat tangan dan mengaminkan doa dari imam saat ini yaitu Al-ustaz Abdul Cholid Raimin.

 

Sungguh, tubuh saya memang terpaku namun hati saya mandab se mandab-mandabnya kepada saudara Muhammad Arwani si Boyolali yang terguyur kuah sayur itu. Betapa teganya dia tidak membangunkan saya ketika sirine sudah selesai, bahkan ketika azan dan iqamat. Saya membathin: “Pasti dia mau membalas dendamnya kepada saya akibat tragedi besar si gerobak sial itu.

 

Tapi kan sebaiknya dia harus marah kepada Allah yang mengirim tamu yang datang kok banyak banget? ” Tapi…….sebentar dulu…. Saya tidak jadi marah, malah ketawa ngakak karena setelah jamaah bubar saya melihat si Boyolali justru datang dari mimbar yang sebelahnya lagi (mimbar masjid Jamik Gontor itu memang dua banyaknya dan berimpit) dia juga mengucek-ucek matanya karena baru bangun dan jauuuuuuuuuuuuh lebih parah malunya sebab dia berada dimimbar yang terbuka blas sedangkan saya ada mimbar yang sedikit menutupi. Ketawa saya makin ngakak ketika membayangkan bagaimana rupanya Ribuan jamaah shalat subuh waktu itu mentertawai Al-Akh Al-jamiiiil Al-jamil Al-Mungil Al-Diguyur Muhammad Arwani Al-Boyolali.Yah memang kami sama-sama ketiduran dan sahurpun jadi laliiiiiiiiiiiiiii.

 

Wassalam.

(Walsantor. maaf kayaknya ini yang terakhir minggu ini sebab saya sudah akan berangkat nih. maaf ya? Mohon doanya)

 

 

Pengalaman Dari Gontor (2)

Oleh : Ustadz Hasanain Juaini (Alumni Gontor)

Pimpinan PONDOK PESANTREN NURUL HARAMAIN LOMBOK BARAT, NTB, INDONESIA

GONTOR DARI DALAM (2)

Santri Jagoan Kelit

 

Hasil ujian masuk di Gontor mengemplang saya benar-benar sampai terkapar. Saya memang LULUS tapi ??? Tahukah ibu-bapak Walsantro abjad kelas terakhir tahun 1979 di Gontor adalah kelas “SATU HA”.

 

Disitulah bahtera saya tertambat. Hem…sedihnya setengah karena setiap kami jalan menuju kelas di halaman Gontor yang luas itu, seakan akan semua mata memandang kami dan (mungkin) dihatinya berbisik: “Itu mereka gerombolan anak-anak yang hampiiiiiiiiiiir tidak lulus”.

 

Bukan santri namanya kalau tidak pandai bela-belain dirinya. Selalu ada celah untuk tidak bersedih atau kalau bisa kita tertawa ngakak saja diatas kesedihan itu biar malu setannya. Mula mula modal berkelit diberikan oleh Pak Kyai. katanya begini: ” Mari kita sama-sama meminta maaf kepada capel-capel yang terpaksa tidak bisa diterima. Kita bukan tidak cinta cuma saja cinta tidak harus saling bersama. selamat jalan kawan semoga ditempat yang lain Allah memberi anda semua yang lebih baik”

 

Dengan permohonan maaf dan doa itu saja kedua bibir kami sudah berubah datar dan sejajar bentuknya dan tidak lagi ujung kiri kanannya turun kebawah seakan menunjuk kearah butiran-butiran harga dirinya yang jatuh. Lulus Kok Sedih sih? tak ada itu.

 

Hari pertama masuk kelas (Ini strategi Gontor yang canggih yang mengkhususkan kelas-kelas bepsikologi khusus semacam SATU HA, harus di wali kelasi oleh guru senior yang terhebat), masuklah seorang guru yang berbadan tegap dan atletis, rambutnya ikal hitam legam dan mengkilat, suaranya suara emas, baju, celana dan jas maching dan dasi yang bagus sekali.

 

Assalamu’alaikum ujarnya diawal perjumpaan itu, mimiknya dibuat seperti orang yang hendak menerima hadiah besar sekali. kami semua menerjemahkan body-language itu bagai beliau berkata: ” Aku ini Muhammad Bakhtiar Syam, pemuda asal Sulawesi yang telah dipilih secara khusus oleh Kyai zarkasyi untuk menjadi wali kelas dari sebuah kelas yang akan menjadi superior di Makhad ini” …Tanpa ba bi bu, ta ti tu beliau mengangkat telunjuk kedepan dadanya dan meminta kami mengulangi mahfuzot: Khairul umuuuri…..Khairul umuuuri…..Khairul umuuuri…..Khairul umuuuri.

 

Mula-mula dengan suara keras sekeras-kerasnya (mungkin maksudnya untuk mengusir setan atau menggilas pikiran yang masih melayang kerumah) setalh beliau memastikan kami telah hafal beliau menurunkan tone suara, demikian juga kami yang mengikutinya. dan akhirnya kami ditanya kira-kira terjemahannya apa? Nyaris semua mengangkat tangan dan akhirnya kami teriakkan saja: SEBAIK-BAIK PERKARA ITU……. ahaaaaaaaaa!!!! rasanya kami sudah jadi ulama besar sekarang.

 

Ustaz yang selalu kurindui Al-mahbub: Bakhtiar Syam, si gagah yang se konsul dan sekampung dengan “Si Baso dalam film N5M” itu lalu melanjutkan:

{maaf saya komentari sedikit: Lillahi Ta’ala rambut dan wajah mereka sangat mirif. Maka terpujilah yang memilih dan memerankan BASSO itu}

 

Ayo teriakkaaaaaaan : Khairul Umuuuri AU SATU HA…..Khairul Umuuuri AU SATU HA….Khairul Umuuuri AU SATU HA…..Khairul Umuuuri AU SATU HA…..Khairul Umuuuri AU SATU HA. Kebetulan kelas kami bertempat di Gedung Satelit kamar 12 yang berada paling ujung timur dan mepet ke jembatan sungai Malo.

 

Setelah kelelahan beliau menurunkan tangannya dan dan kamipun mendadak sepi…. ” Thoyyib…..man yutarjim?” kami terdiam sejenak dan saudara Kamaluddin BA, santri tertua asal Palembang yang masuk Gontor setelah menjadi sarjana muda alias Bachelor of Arch, nyeletuk:

 

“ustaz!!!…. kami tak ada pun santri nama thoyyib” Ustaz Bakhtiar Syam tersenyum dan menerjemahkah makna kalimat beliau tadi: baiklah….siapa yang bisa menerjemahkan mahfudzot tadi…”Khairul Umuuuri AU SATU HA” ??? Santri tertua setelah Kamaluddin BA adalah Abdul Bashit BA asal Medan angkat tangan dan dengan logikanya yang menebak bahwa mahfudzot itu ada hubungannya dengan Abjad kelas kami yang 1H. katanya menjawab: “Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA” Siiiiiiiing….kami semua menaikkan alis, hati merasa takjub. Kok ada ya mahfudzot yang menjadi dalil bahwa kelas terendah dengan abjad HA adalah kelas paling hebat di dunia? Ustaz Bakhtiar Syam memegang perutnya, minta permisi keluar pintu kelas untuk tertawa tapi tangannya mengisyaratkan agar kami meneriakkan terjemahan mahfudzot dahsyat itu. maka menggemalah dalil paling perlukan itu memekakkan telingan…..

 

“Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA”

“Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA”

“Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA”

“Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA”

“Sebaik-baik kelas adalah kelas SATU HA”

 

Teng…teng…teng bel yang gedenya bak drum dan terbuat dari bekas peluru roket nyasar yang dipungut di hutan madiun itu menembus suara apapun di areal 25 hektar pondok modern Gontor.

 

Dengan disiplin tinggi ala Gontor, ustaz Bakhtiar Syam yang belum sempat memperkenalkan diri itu berwejang: ” nanti sore kita semua akan bertanding main sepak bola melawan kelas Satu B. Semua harus siap setelah shalat Ashar. Benar saja, dalam pertandingan antar santri-baru, kelas SATU HA adalah juaranya. Kelas pertama yang kami lindas adalah kelas Satu Be ( abisss lho bocah-bocah cilik) yang kebetulan anak-anaknya kecil keciiiiiiiiil.

 

Kami bangga dengan kelas kami SATU HA. We are proud to say: The best thing in the world is SATU HA. Sebulan setelah peristiwa itu, kelas SATU HA itu berganti isinya, karena sebagian besar kami mengikuti ujian eksperimen atau kelas yang lebih tinggi: Saya sendiri dan Akhmad Khairuddin, Purwanto, Abdul Bashit, Kamaluddin, Ulis Thofa diterima di kelas satu eksperimen (sekarang istilahnya kelas intensive) B. Yang lainnya banyak diterima di kelas dua…selanjutnya saya tidak tahu riwayat kelas heboh itu.

 

Akhmad Khairuddin ini adalah salah seorang yang sedianya akan hadir bersama saya di Kick Andy dalam Acara Man Jadda Wajada itu, namun kesibukannya sebagai top manager di Harriburton Ekploration Corporation di Taiwan tidak memungkinnya untuk datang. Bersama dia saya melalui kelas 1, 3, 5 dan enam dan selalu B. Juga kelak ketika kami sama-sama menjadi guru kami mendirikan KURSUS BAHASA INGGRIS yang kami beri nama “SPIRIT ENGLISH COURSE” yang sampai hari ini masih eksis di Gontor. Alhamdulillah.

 

Sedangkan Ustaz Bakhtiar Syam dipindahkan tugasnya menjadi wali kelas dari SATU HA ke Satu eksperimen B. Saya dengar desas desus beliau sudah jadi Guru besar di tumpah darahnya Sulawesi. Siapa tahu ada hubungan keluarga dengan si Basso atau Pemerannya itu. wallahu A’lam.

 

Wassalamu’alaikum. nanti kalau ada jeda waktu kita lanjutkan. Maaf kalau kepanjangan yang Bu??? ya Pak???

Pengalaman Dari Gontor (1)

Oleh : Ustadz Hasanain Juaini (Alumni Gontor)

Pimpinan PONDOK PESANTREN NURUL HARAMAIN LOMBOK BARAT, NTB, INDONESIA

 

GONTOR DARI DALAM (1)

 

Bismillahirrahmanirrahim

 

Walsantor yang anaknya sekolah di Gontor, jelas tak perlu khawatir hanya karena berawal dari pemaksaan. Secara psikologis anak tamatan SD dan SMP masih dalam barisan angkare (dalam pramuka) sehingga memang membutuhkan bantuan dalam memilih jalan. Gontor tahu hal itu dan sudah ada mekanisme untuk menggilasnya. Ibu-bapak ikhlaskan dan do’akan saja dari rumah.

 

Menyibukkan adalah mekanisme perdana yang biasanya dirumah tidak mampu dilakukan orang tua. 24 jam bukan perkara mudah untuk mengisinya padahal gerbang kehancuran manusia itu tiga perkara: KEKOSONGAN, MASA MUDA DAN BANYAK UANG. Anak-anak santri yang dirumahnya memiliki ketiga-tiganya adalah mereka yang berat mengalami masa-masa awal di Gontor. Hallo…hallo…hallo ibu bapak walsantor yang kaya-kaya! segeralah bersujud jika anda-anda mampu menutup gerbang kehancuran ini.

 

Pengaruh kesibukan yang padat ini atau persisnya tak ada abisnye…he he he; membuat beberapa anak nervous, tapi sebaliknya anak-anak yang dirumahnya sudah biasa kerja keras hanya cengengesan saja bahkan terheran-heran melihat teman2 kotanya bagai cacing kepanasan. Opppsss pengurus Rayon sudah diperintahkan untuk memantau hal ini, maka anak-anak kusut akan dipertemankan dengan anak-anak cengengesan itu maka terjadilah sharing mentalitas menuju perimbangan. Tak akan lebih sebulan situasi yang bagai ombak bergulung akan berubah menjadi bagaikan permukaan air yang tenang dan landai-landai saja.

 

Energi lebih yang dimiliki anak-anak hari demi hari mulai tersalur. Oh ya ada juga anak-anak yang terlalu konfidence sehingga mengikuti berbagai jenis kegiatan extra. Satu dua minggu bisa dilaluinya dengan senangnya persis seperti ibu-bapak yang membawa banyak uang masuk restoran di mall, eee eee semua dibeli, diborong dan disajikan, begitu dua tiga sendok hallaaaaaaaah mau muntah. Ya hal ini juga akan dilibas oleh proses pengenalan diri akhirnya tersisa beberapa kegiatan yang terdaya dia ikuti. Maka ada mahfudzot: HALAKA IMRUUN LAM YAKRIF QODROHU=HANCURLAH MANUSIA YANG TIDAK MENGENAL UKURAN DIRINYA, yang diajarkan tepat waktu. Inilah yang membimbing anak-anak untuk menjadi lebih arif. Nah tapi siapa yang membimbing orang tuanya dirumah yang terbiasa BERGEBYAH UYAH?

 

Alhasil ibu-bapak kalau berkunjung ke Gontor (awas jangan terlalu sering) jangan ganggu anak-anak dengan kalimat-kalimat: Ohh kasihan anakku lelah sekali di Pondok. Enggak dapat makan enak, enggak dapat malas-malasan, tidak ada TV, tidak ada HP …dst. Sebaiknya kasihanilah diri sendiri yang dirumah tak terbimbing menuju hidup ala Rasulullah.

 

Saya punya kisah. Begini (Tak terlalu perlu. Kalau tdk ada waktu lewatkan saja) :

 

Pertengahan tahun 1979 ketika perpulangan pertama saya sampai dirumah sekitar tengah malam. Saya temukan ibu-bapak saya sedang akan berjamaah shalat tahajjud, setelah dibukanan gerbang, maka saya mencium tangan dan pipi ibuku lalu tangan dan pipi ayah.

 

Dari belakang punggung saya dengan isak tangis ibu saya yang meraba tulang iga saya dan berkata: Oh anakku mengapa engkau begitu kurus? Ibu terus menangis saat shalat tahjjud berjamaah tapi ayah selalu senyum tak bilang apa-apa.

 

Peristiwa yang mirip terjadi lagi pada perpulangan libur akhir tahun itu juga. Bedanya kini ibu saya tertawa sumringah karena saya memang berusaha untuk tidak membuatnya menangis sehingga selama di Gontor kalau makan berusaha banyak-banyak (maklum masa pertumbuhan kan? dan memang kata berjimat kyai Zarkasyi mengatakan: makanlah yang banyak tapi belajar harus lebih banyak). Saya berhasil, badan saya gemuk dan ibu tersayangpun tertawa senang. Alhamdulillah.

 

Ketika beranjak menyalami ayah saya, beliau tidak memberikan ekspresi senang. Beliau hanya menunggu saya menyampaikan pesan lisan Kyai Zarkasyi (seperti yang biasa diamanhkan waktu salaman akhir tahun) . . . Pesan Pak Yai assalamu’alikum . . .jaga nama baik pondok….bantu kerja2 orang tua . . . .bla bla bla…

 

Diruang shalat saya mendengar ibu saya menungkas ayah dengan katanya: Kak….mengapa kakak tidak senang dengan kepulangan anak kita kali ini? Agak kencang ayah saya menjawab: karena saya lihat dia di sana cuma makan tapi tidak belajar…

 

Ini benar bapak ibu. Keesokan harinya saya minta permisi minta kembali ke Gontor. Tidak jadi puasa dan lebaran bersama keluarga karena saya malu kepada mereka yang telah melahirkan dan membesarkan saya sedangkan saya tidak membua mereka BANGGA.

 

Karena di Gontor pada awal Ramadlan memang agak sepi, maka dengan izin Allah saya sering bertemu dan bercakap-cakap dengan Kyai Zarkasyi sehingga beliau kenal saya. Saya ingat sekali pada waktu shalat Iedul Fitri dengan nyaring beliau memanggil nama saya di mike dan ditunjuk untuk membagi-bagikan shadaqah dari kelebihan hasil percetakan beliau kepada santri-santri yang berdiam dan berpuasa di Gontor.

 

(Mohon do’a kesehatan agar bisa melanjutkan kisah-kisah Gontorian)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Stuhrling Original Men’s 174.332K6K59 – Sportsmans Swiss Quartz

Product Details

 

Product Specifications

Watch Information
Brand Name Stuhrling Original
Model number 174.332K6K59
Part Number 174.332K6K59
Item Shape Round
Dial window material type Synthetic sapphire
Display Type Analog
Clasp Buckle
Case material Stainless steel
Case diameter 46 millimeters
Case Thickness 12 millimeters
Band Material Rubber
Band length Men’s Standard
Band width 22 millimeters
Band Color Brown
Dial color Brown
Bezel material Stainless steel
Bezel function Stationary
Calendar Date
Movement Swiss quartz
Water resistant depth 330 Feet
Warranty type Contact seller of record